Peran para Ulama dan du’at (para da’i) adalah melakukan perlindungan dan pemberdayaan terhadap ummat. Demikian dinyatakan wakil ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. DR (hc) Ma’ruf Amin pada Deklarasi dan Muktamar Ikatan Ulama & Da’i Se-Asia Tenggara di Depok Jawa Barat pada Sabtu (29/11). “Setidaknya para ulama dan du’at mempunyai tanggungjawab untuk: pertama, melindungi umat (himayatu al-ummah), kedua, memberdayakan umat, baik di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, ataupun politik; ketiga, mempersatukan umat”, paparnya.

Menurutnya, “perlindungan umat dari aqidah yang sesat (ri’ayah wa himayatu al-ummah ‘ani al-‘aqidah al-fasidah) merupakan salah satu agenda utama gerakan dakwah yang harus dilakukan secara terus-menerus, karena akidah yang sesat akan senantiasa muncul di tengah masyarakat dengan berbagai macam bungkus dan kamuflasenya”. Kyai Ma’ruf mencontohkan beberapa aliran sesat yang senantiasa muncul dengan berbagai bungkus dan kamuflasenya tersebut, seperti Lia Eden, Al-Qiyadah al-Islamiyah, dan Ahmadiyah.

Selain itu Mantan ketua Komis Fatwa MUI Pusat ini menekankan pula, para ulama dan du’at juga harus menggarap isu-isu tentang pemberdayaan umat di bidang ekonomi, politik, pendidikan, sosial-budaya, dsb. “Harus diakui bahwa umat Islam sebagian besarnya masih belum berdaya, baik di bidang ekonomi, pendidikan, dan juga politik”, tegasnya.

Berkenaan dengan persatuan ummat beliau mengemukakan langkah konkrit, yatu penyamaan pola pikir dan koordinasi. “Menyadari hal tersebut (perbedaan dan perselisihan), tepatlah kiranya mengangkat kembali konsep Penyamaan Pola Pikir dalam Masalah Keagamaan (taswiyah al-manhaj) dan Koordinasi Langkah Strategis dalam Masalah Keagamaan (tansiq al-harakah”, pungkasnya.